Home Cerita Inspirasi PENGRAJIN BATA MERAH BANGKONG TETAP BERTAHAN DIMASA PANDEMI COVID 19

PENGRAJIN BATA MERAH BANGKONG TETAP BERTAHAN DIMASA PANDEMI COVID 19

31
0
SHARE

Sumbawa Besar, RumahInformasiSamawa.com – Walaupun pandemik Covid-19 mewabah dimana-mana, tak membuat para pengrajin bata merah patah semangat, justru di tengah situasi tersebut mereka banyak kebanjiran pesanan, hasil batah merah yang selesai dibakar, tak pernah lama tersimpan dan selalu diserbu oleh para pembeli, mereka ada yang berasal dari dalam kota sumbawa dan ada juga yang berasal dari luar kota Sumbawa.

Arahman L (70) salah satu pengrajin Batu bata merah Bangkong sedang memberikan instruksi kpada salah satu pekerjanya

Seorang pengrajin bata merah Arahman L (70 tahun) kelahiran Desa Brare Kecamatan Moyo Hilir yang saat ini sudah lama menetap di Dusun Bangkong Desa Karang Dima yang keseharian menekuni pembuatan Bata merah mengatakan, bahwa pekerjaan yang ia geluti ini sudah berjalan sejak tahun 1993 dengan sistem pembagian hasil dengan pemilik tanah, hasil yang ia dapatkan bisa membantu ekonomi keluarga.

Lebih lanjut ia menceritakan, bahwa ia bersama seorang istri dan lima orang anaknya menetap pada lokasi pembuatan bata merah dengan rumah gubuk sederhana, sehingga tidak terlalu repot mengurus anak-anak dengan pekerjaannya karena tidak jauh dengan rumahnya, dan semua anggota keluarganya sangat membantu sekali dalam pekerjaannya karena bersama mereka saat bekerja selalu kompak dan saling membantu, terutama anak-anaknya jika ada waktu libur sekolah lebih-lebih saat ini masih merebaknya Covid-19, mereka sering membantu dirinya karena belum dapat masuk sekolah.

Batu bata merah yang sedang dalam proses pembakaran

Batu merah yang ia cetak dan telah dilakukan pembakaran, maka di bayar oleh pemilik tanah dengan harga per seribu sejumlah Rp. 170.000 sedangkan kalau hanya dicetak saja tanpa dilakukan pembakaran maka akan dibeli oleh pemilik tanah sejumlah Rp. 120.000, namun selama ini ia lakukan pembayaran oleh pemilik tanah setelah selesai di bakar, dan itupun jika jumlahnya sudah sampai jumlahnya sebanyak 10.000 butir bata merah.

Menurutnya, sejak tiga hari yang lalu, orang sering datang mencari bata merah, namun karena stok disini sudah habis sehingga mereka disuruh menunggu sampai tersedia yang sudah selesai dibakar. Orang yang datang kemarin mencari bata merah berasal dari dalam dan luar kota Sumbawa, mereka kebanyakan membutuhkan bata merah ini untuk membangun rumah tempat tinggal, masjid, dan pembangunan proyek di desa dengan harga per seribu Rp.700.000 sampai dengan Rp.1.000.000, tergantung jarak pengantaran,  katanya mengakhiri cerita disore hari yang cerah ini. (manaja)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here