Home Budaya BARONGKO MAKANAN PARA RAJA (kearifan lokal)

BARONGKO MAKANAN PARA RAJA (kearifan lokal)

46
0
SHARE

Sumbawa Besar, RumahInformasiSamawa.com – Dua hari lagi kita Lebaran, Ramadhan pun akan usai, banyak hal yang akan dirindukan dari bulan ini. Shalatnya lebih rajin dan khusyuk, tarawehnya, tadarusnya, fashion kita pun lebih Islami, yang cowok kemana-mana kopiahan, kaya’ mau nikah. Juga nikmatnya saat sahur dan berbuka. Nikmat ini tidak sama dengan nikmat di bulan-bulan lain.

Nanti di bulan Syawal dan seterusnya, kita akan merasa patah hati mendengar bait lagu Oma ini, “kalau sudah tiada, baru terasa….”.Lagi, yang akan bikin rindu, tentu saja macam-macam takjil, dari yang jajanan kampung sampai jajanan kekinian, yang dicari setiap menjelang berbuka.

Untungnya kita dimudahkan dengan banyaknya penjual di pinggir jalan protokol, tempat keramaian atau via media online yang siap delivery.

Sore kemaren, saya jalan-jalan menunggu maghrib, kemudian mampir ke lapak takjil pinggir jalan yang sudah ramai pembeli. Jajanan terhampar berbagai rupa. Sekilas tampak seperti Rio de Janeiro Carnaval.Ada kelompok gorengan, dari pisang goreng, ubi goreng, tahu goreng, Sambusak, mau pilih yang isi Toge atau isi mihun/mie, dan gorengan lainnya . Mereka berjejer dengan akur dan guyub. Tidak ada perselisihan diantara mereka, karena mereka merasa senasib sepenanggungan telah melalui proses yg sama. Digoreng !. Di sebelahnya rumpun keluarga bubur. Ada bubur candil, bubur ketan, bubur kacang ijo, bubur sumsum, dan bubur lainnya. Aneka warnanya cerah meriah seperti pintu gerbang Agustusan. Meski hakikatnya bubur, tapi dicombine dengan unsur-unsur lain, sehingga muncullah bermacam varian bubur. Sama sekali tidak ada disparitas dan tidak ada syak wasangka dalam berkompetisi berebut pembeli diantara bubur-bubur itu, mereka sadar mereka berasal dari moyang yang sama dan sudah punya penggemar beserta jatah rezeki masing-masing.

Kemudian ada meja yang dipenuhi beragam takjil kekinian, macam lumpia, Pentol Bakar Balado, Dadar Gulung, Salad buah, Rainbow Cake, Nastar, Pie Susu, Risoles, Kebab dll. Dengan tampilan – tentu saja – kekinian, dari segi model, kemasan maupun rasa. Mereka betul-betul didandani sehingga tampil cantik dan modis, serta bener-bener hasil dari kreatifitas para pembikinnya.Contoh, pisang saja bisa melahirkan banyak varian. Pisang topping coklat, pisang topping keju, pisang topping misis, es pisang ijo, kolak pisang mutiara, Kolak Pisang Biji Salak, dsbnya.Saya berhenti dan memang niat, di sebuah meja, sama dengan meja lain, cuma di sini semuanya jajanan kampung, yang lazim dijual dan selalu tersedia di pasar setiap hari, jajanan ini tetap eksis di blantika jajanan dan punya peminat tersendiri.seperti Nagasari, Cucur, Lupis, Cerorot, Kelepon, Getuk, Barongko, Janda Berhias, Janda Genit, Janda Berenang, dan Janda-janda yang lain. Sebentar !, sebenarnya dari mana ide ‘Janda’ menjadi nama kue, emang apa sih istimewanya janda ?, kenapa nggak nona aja, kan lebih fresh dan ginuk-ginuk ?. Apa mungkin karena janda lebih kompeten dan incredible, ’cause sudah memiliki jam terbang ?, dan apakah sudah ada kesepakatan dari ibu-ibu produsen dalam memberi label tersebut ?.Lha …. kok jadi ngomongin janda.

Oke kita kembali ke topik semula, Majelis Facebook yang berbahagia, meski yang dijual jajanan kampung, meja ini ramai dirubung pembeli, malah lebih ramai dari meja-meja lainnya. Saya akhirnya berhenti di jajan berbungkus daun pisang, namanya Barongko tadi. Dia berbaris dengan sopan diantara Kelepon dan Nagasari.”Bu Barongkonya 25 ribu ya”, kata saya sambil menaruh uang di meja.”oke bund”, sahut si ibu penjual seraya menggamit tas kresek membungkusnya tanpa menoleh, itu dilakukan dalam satu tarikan nafas, karena keburu melayani pembeli yang lain. Setelah melihat ke arah saya, sambil menyerahkan bungkusan Barongkonya, si ibu tersipu malu, persis seperti perawan yang sedang jatuh cinta.Dikiranya saya ibu-ibu, padahal bapak-bapak….Saya cuma bisa tersenyum ikhlas, oke bund. saya maapkan, sambil berpikir, kok bisa saya dipanggil bunda ya ?, apa suara saya keibu-ibuan ?. ho..ho..ho….mungkin si ibu itu terbawa bahasa olshop.bund, sist, bucan apalah apalah…dahlah, saya pulang dengan rasa puas, hari ini bisa berbuka dengan Barongko.

Majelis Facebook yang budiman, asal tau saja,Barongko itu aslinya dari Bugis, datang bersama gelombang migrasi orang-orangnya ke tanah Sumbawa, berabad yang lalu dan kemudian menjadi salah satu pilihan kuliner lokal yang disukai disini. Jajanan ini berbahan dasar pisang kepok yang dileburhaluskan, dicampur dengan bahan lain, lantas dibungkus dengan daun pisang, kemudian dikukus, dengan api kecil atau api besar ya ?. ( detailnya chek google aja deh!).

Dulunya, Barongko menjadi makanan penutup favoritenya raja-raja di Bugis.Wuih….keren kan ?.Nah, saya yang penggemar berat pisang, diolah dalam bentuk apapun asal bahannya pisang, saya suka.Terutama Barongko, setidaknya karena dua hal : pertama, jajan ini sangat akrab sejak saya kecil, setiap Emak ke pasar, saya selalu request Barongko. Kedua, sensasi rasa pisangnya yang kental saat menikmatinya kunyahan demi kunyahan.Atas nama penggemar Barongko, saya sampaikan :kami itu lebih suka Barongko dalam bungkusan daun pisang, biarpun penjepit bungkusnya tidak lagi pake lidi tapi diganti staples, gak apa-apa. Karena ada rasa khas daun pisang yang ikut membaur di dalamnya. Daripada Barongko yang dibuat memakai loyang atau cetakan, meski ini mungkin terpaksa sebagai solusi, mengingat sekarang sulit sekali mendapatkan daun pisang kepok, apalagi di bulan puasa, saat puncak-puncaknya penggunaan daun pisang.Sedikit sombong bund, sist…., saya tuh sangat bisa membedakan barongko yang berbahan pisang matang sempurna dengan pisang matang karbitan. Tau mana Barongko yang mengandung banyak campuran tepung dengan yang dominan pisang. Dari tekstur dan warnanya saja kelihatan.Yang banyak campuran terigu berwarna keputihan (maap, bukan penyakit perempuan itu lho ya !), dan permukaan tubuh kuenya lebih mulus dan lentur kalau ditoel. Sedangkan yang dominan pisang, warnanya kuning pucat khas warna pisang, serat pisangnya masih terlihat, kalau disentuh lebih basah, empuk dan gampang merekah (jangan negative thinking lho ya, saya tidak menemukan kata lain yang pas).

Kalau saja ada lowongan mencari seorang tester kualitas Barongko, haqqul yakin saya bakal keterima. dan setiap makan Barongko saya sangat menikmatinya, karena selain rasa, juga karena ada rindu dalam setiap gigitannya.Beberapa saat sebelum azan Maghrib, saya tata sendiri Barongko tadi diatas piring, menatapnya dengan rasa hormat, mengenang semangat petualang laut masyarakat Bugis, karena mereka, kamu bisa berada di meja saya. Respect Barongko !

(Alas, 11 Mei 2021)

Wahyuddin Samawa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here