Data ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh pendapatan masyarakat masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Sumbawa, rumahinformasisamawa.com/5-2-26 — Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2023 hingga 2025 mencatat bahwa struktur pengeluaran konsumsi masyarakat Kabupaten Sumbawa masih didominasi oleh kebutuhan makanan.
Pada tahun 2023, persentase pengeluaran untuk makanan tercatat sebesar 51,96 persen, sementara non makanan sebesar 48,04 persen. Angka ini meningkat pada tahun 2024 menjadi 54,03 persen untuk makanan dan menurun menjadi 45,97 persen untuk non makanan. Tren serupa berlanjut pada tahun 2025, dengan pengeluaran makanan sebesar 53,82 persen dan non makanan 46,18 persen.
Data ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh pendapatan masyarakat masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Berdasarkan kelompok pengeluaran tahun 2025, terlihat perbedaan pola konsumsi yang cukup signifikan. Kelompok 40 persen terbawah mengalokasikan pengeluaran makanan sebesar 67,17 persen, sementara non makanan hanya 32,83 persen. Pada kelompok 40 persen menengah, pengeluaran makanan sebesar 57,01 persen dan non makanan 42,99 persen. Sementara kelompok 20 persen teratas justru menunjukkan pola sebaliknya, dengan pengeluaran non makanan lebih besar yaitu 53,04 persen, dibandingkan makanan 46,96 persen.
Selain itu, data konsumsi gizi menunjukkan adanya kesenjangan antar kelompok pengeluaran. Rata-rata konsumsi kalori per kapita per hari pada kelompok 40 persen terbawah sebesar 1.824,85 kkal, meningkat pada kelompok menengah menjadi 2.226,95 kkal, dan tertinggi pada kelompok 20 persen teratas mencapai 2.554,20 kkal.
Untuk konsumsi protein, kelompok terbawah hanya mencapai 54,76 gram per hari, kelompok menengah 69,22 gram, dan kelompok teratas mencapai 87,46 gram per hari.
Pemerintah Kabupaten Sumbawa terus berkomitmen meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program pengentasan kemiskinan, peningkatan ketahanan pangan, serta perbaikan kualitas gizi masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan.
Data ini menjadi dasar penting dalam perumusan kebijakan pembangunan sosial dan ekonomi yang lebih tepat sasaran.
ULASAN & ANALISIS UNTUK TRANSPARANSI PUBLIK
1. Dominasi Pengeluaran untuk Makanan
Lebih dari 50 persen pengeluaran masyarakat Sumbawa digunakan untuk makanan selama 2023–2025.
➡ Ini menandakan bahwa:
• Pendapatan masyarakat masih relatif terbatas
• Kebutuhan dasar pangan masih menjadi prioritas utama
• Tingkat kesejahteraan belum sepenuhnya bergeser ke kebutuhan sekunder
Secara ekonomi, semakin besar porsi makanan biasanya menunjukkan tingkat kesejahteraan yang masih menengah ke bawah.
2. Kesenjangan Konsumsi Antar Kelompok Pengeluaran
Kelompok 40 persen terbawah menghabiskan hampir dua pertiga pendapatannya untuk makanan.
Sementara kelompok 20 persen teratas:
✔ Lebih banyak belanja non makanan
✔ Menunjukkan daya beli lebih tinggi
✔ Sudah mampu memenuhi kebutuhan sekunder seperti pendidikan, kesehatan, dan transportasi
➡ Ini mencerminkan adanya ketimpangan kesejahteraan di masyarakat.
3. Ketimpangan Asupan Gizi
Perbedaan konsumsi kalori dan protein cukup mencolok:
| Kelompok | Kalori (kkal) | Protein (gram) |
|---|---|---|
| 40% terbawah | 1.824,85 | 54,76 |
| 40% menengah | 2.226,95 | 69,22 |
| 20% teratas | 2.554,20 | 87,46 |
Kelompok bawah:
⚠️ Berpotensi kekurangan energi & protein
⚠️ Rentan stunting dan masalah kesehatan
Kelompok atas:
✅ Asupan gizi jauh lebih baik
4. Implikasi Kebijakan bagi Pemkab Sumbawa
Data ini menunjukkan kebutuhan kebijakan fokus pada:
???? Penguatan ekonomi masyarakat miskin
???? Program bantuan pangan bergizi
???? Peningkatan pendapatan rumah tangga
???? Edukasi gizi seimbang
???? Pengendalian harga bahan pokok
5. Kesimpulan Analitis
Secara umum:
✔ Konsumsi makanan masih mendominasi pengeluaran
✔ Kesenjangan ekonomi nyata antar kelompok
✔ Kualitas gizi belum merata
Ini menegaskan bahwa:
➡ Pembangunan ekonomi harus lebih inklusif
➡ Program sosial harus tepat sasaran
➡ Ketahanan pangan dan gizi harus jadi prioritas (KH74)








